Tentang Ri
best way to not get your heart
broken is to pretend you dont have one.
Siang
itu, Aku sedang berada di lab psikologi kampusku. Sunyi sekali. Yang terdengar
hanya suara gelembung air di dispenser dekat komputer. Selebihnya, hening.
Hening yang memekakkan. Aku sedang berusaha konsentrasi dengan laporanku saat
tiba-tiba aku dikagetkan suara hpku sendiri. Pesan dari salah satu sahabat baikku “ini pin bb Ri”.
Tanpa sadar aku menahan napas dan mematung. Aku sangat terkejut. Nama itu..
Nama itu membuat sel otakku membongkar file-file
di LTM dan melayang ke sebuah dimensi waktu, dulu. Bertahun-tahun yang lalu.
Saat dimana aku bersahabat dengan seseorang yang masih sangat nyata bagiku, selalu ada. Kemudian waktu berlalu. Seseorang itu memutuskan untuk melanjutkan
mimpi ke sebuah kota yang bagiku sangat jauh. Tidak akan ada lagi duduk bersama
di kos ku, atau apapun yang biasanya kami lakukan bersama. Dia menghilang.
Tapi
yang paling membuatku tersentak, ternyata keputusannya kesana juga menjadi
akhir keberadaannya. Seseorang itu akhirnya memutuskan untuk tidak lagi
“bersamaku”. Ya, kami terpisah. Bukan karena jarak, tapi lebih karena keadaan.
Dan seiring waktu, aku mulai bisa melupakan apapun yang pernah kami lakukan.
Tepatnya, menerima kenyaataan bahwa itu hanya sebuah kejadian yang sekarang
harus di tempatkan dalam sebuah kotak bernama kenangan. Seseorang itu masih
nyata di dunia ini, tapi tidak lagi di duniaku. Catatan ini, hanya untuk
membuatnya mengerti sesuatu, aku rindu.
Tahukah kau Ri..? rindu ini lebih dahsyat dari
rindu Pungguk kepada Bulan. Lebih gila dari rindu Laila kepada sang Majnun.
Rindu ini lebih menyakitkan Ri. Aku tak marah karena kau ingkar janji. Pun tak
benci karena kau lebih memilih untuk berjalan dengan seseorang yang sama sekali
baru dalam hidupmu. Aku cukup sadar bahwa dunia terus berjalan, tak peduli aku
mau menerimanya atau tidak. Setiap orang berhak memilih bukan..?. Aku hanya
bingung, letak salahku dimana...? itu saja. Berikan jawaban dan aku akan pergi.
Tak kan lagi mengingat apa yang sudah pernah kita lalui. Tak lagi membuka kotak
kenangan lalu sakit karena melihatmu tersenyum dari dalam sana. Takkan lagi Ri.
Aku hanya ingin jawaban itu, dan aku tidak akan singgah lagi, bahkan untuk
sekedar mengucapkan Selamat Pagi.
Ini tentangmu, Ri.
Banda
Aceh, 16 Februari, 2014.
-cha-
Komentar
Posting Komentar