Aku kembali, Ji



Ji, apa kabar? Sudah hampir tiga tahun kita tidak saling bertegur sapa. Rindukah padaku? Tanyaku suatu malam.  

“Aku rindu, tapi apa yang bisa aku lakukan? kau menghilang tanpa permisi”, jawabmu.

“Maafkan aku Ji, maaf. Kepulanganku ke kampung halamanku ternyata membuatku menemukan dunia baru, orang-orang baru hingga aku lupa untuk datang mengunjungimu”. Aku hanya bisa menunduk, tak berani menatap bola matamu.

Kau hanya tersenyum kecut. “Tak apa, aku paham. Kau sudah lama menginginkan kedamaian ini dan akhirnya kau menemukannya. Aku siapa hingga punya hak merusak itu semua, iya kan?” jawabmu sambil mengetukkan telunjukmu ke dagu. Kebiasaanmu setiap kali kau sedang merasa sedih.
 “Kau sudah menemukan dia?” tanyamu lagi. 

“Sudah Ji, dan aku sangat bahagia. Sekarang aku sudah menikah dan punya seorang putra yang sangat pintar dan lucu”

“Seperti ibunya”, Jawabmu cepat. 

Aku hanya bisa tersenyum lebar.
“Lalu kau, bagaimana? Apa yang sudah kau temukan selama hampir tiga tahun ini?” tanyaku penasaran.

“Aku? Hahaha. Apa yang bisa aku lakukan dengan diriku? Duniaku hanyalah kau. Kehilanganmu artinya aku kehilangan segalanya. Tak  terjadi apa-apa. Selama hampir seribu hari aku hanya duduk disni, di sudut yang sama setiap hari menunggu kau datang berkunjung lagi. Aku rindu, cha. Rindu sekali. Rindu untuk tau tentang hari-hari mu seperti sebelum-sebelumnya”
.
“Maafkan aku. Tapi aku berjanji, mulai hari ini aku akan sering datang berkunjung. Mungkin tak setiap kali aku akan membawa cerita atau mengajakmu biara. Adakalanya aku hanya ingin datang dan duduk denganmu dalam sunyi. Masih bolehkah.?” Tanyaku penuh harap dan rasa bersalah.

“Tentu. Sekarang pulanglah, aku sudah sangat bahagia melihatmu datang kembali. Jika besok kau datang lagi, kau tentu tau kemana harus mencariku bukan?” jawabmu sambil tersenyum.
Ah, aku bahagia dengan senyum itu.

“Tentu saja! Sudut yang sama kan? Baiklah Ji, aku pamit. Tunggu aku”.

Susoh, 30 Juli 2017
20.58

Komentar